RESUME KE -15 PRODUKTIFITAS MENULIS


Resume ke 14
Imah Wuryanti



PRODUKTIFITAS  MENULIS
Pertemuan ke 15, malam ini kita akan mendapatkan pengetahuan baru dari bapak Dr. Ngainun Naim dan kegiatan ini akan dimoderatori oleh ibu Kanjeng @Sri Agustuti Penulis . Omjay umumkan bahwa kegiatan kuliah online hanya ditujukan di wa grup 13 dan 14 mulai minggu depan.Yuk kita lihat profil beliau seebelu  melanjutkan ke pemataran materi.

Nama
:
Dr. Ngainun Naim
Tempat Tanggal Lahir
:
Tulungagung, 19 Juli 1975
Alamat Kantor
:
IAIN Tulungagung, Jl. Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung 66221.
Alamat Rumah
:
Desa Parakan RT 11 RW 04 Kecmatan/Kabupaten Trenggalek Jawa Timur
No Telp.


Kantor
:
0355-321513
HP
:
081311124546
e-mail

Riwayat Pendidikan Formal

§  SDN Sambidoplang Sumbergempol Tulungagung, lulus tahun 1988
§  MTsN Tunggangri Kalidawir Tulungagung, lulus tahun 1991
§  MAN Denanyar Jombang, lulus tahun 1994
§  S-1  STAIN Tulungagung, lulus 1998
§  S-2  Studi Islam Universitas Islam Malang (UNISMA), lulus tahun 2002.
§  S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lulus tahun 2011.
Karya Tulis Buku

1.      Islam Radikal dan Deradikalisasi (2020).
2.      Aktualisasi Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).
3.      Literasi dari Brunei Darussalam (Akademia Pustaka, 2020).
4.      Spirit Literasi (Akademia Pustaka, 2019).
5.      Teraju (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2017).
6.      Proses Kreatif Penulisan Akademik (Akademika Pustaka, 2017).
7.      Merawat Nusantara (Malang: Genius Media, 2017).
8.      Menipu Setan, Kita Waras di Zaman Edan (Jakarta: Quanta, 2015).
9.      The Power of Reading (Yogyakarta: Aura Pustaka, 2013).
10.  Character Building (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012).
11.  Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi, Cet. IV (Yogyakarta: Arruzz-Media, 2008).
12.  Islam dan Pluralisme Agama (Yogyakarta: Aura Pustaka, 2014).
13.  Self Development: Personal, Sosial, dan Spiritual (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2015).
14.  35 Kompasianer Merajut Indonesia (buku bersama) (Jakarta: Kompas, 2013).
15.  Merajut Kerukunan Antarumat Beragama (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2012).
16.  Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Gre Publishing, 2011).
17.  Sejarah Pemikiran Hukum Islam (Yogyakarta: Teras, 2009).
18.   “Resiko Menawarkan Pemikiran Liberal”, dalam Ulil Abshar-Abdalla, dkk, Islam Liberal dan Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana (Yogyakarta: eLSaQ, 2003).
19.  Teologi Kerukunan, Mencari Titik Temu dalam Keragaman (Yogyakarta: Teras, 2011).
20.   “Krisis dalam Dunia Pendidikan, Dimensi Kemanusiaan, dan Pengembangan Nalar Spiritual”, dalam Akhyak (ed), Meniti Jalan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003).
21.  Rekonstruksi Pendidikan Nasional, Membangun Paradigma yang Mencerahkan (Yogyakarta: Teras, 2009).
22.  Konservasi Lingkungan Berbasis Tradisi (Tulungagung: STAIN Tulungagung Press, 2011).
23.  Spirit Literasi (Tulungagung: Akademia Pustaka, 2019).
24.  Resolusi Menulis (SPN Grup, 2017).
25.  The Power of Writing (Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2015).
26.  Dan beberapa buku lainnya.
Artikel Jurnal

1.     Mysticho-Philosophy: The Integration Epistemologies of Mulyadhi Kartanegara, Episteme, Volume 13, Nomor 2, 2018.
2.     The Development of Islamic Study Through The Study of Figures: Significance and Methodology, AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, Vo. 2, No. 2, 2017.
3.     Deradicalization Through Islamic Education at State Institute for Islamic Studies (IAIN) Tulungagung, Madania, Volume 22, Nomor 2, 2018.
5.     A Jurisprudence of Diversity (Fiqh Kebinekaan): From the Theological-Normative to Contextual-Progressive Reasoning, Al-Adalah, Volume 1, 2018 (Sinta 2).
6.     DERADIKALISASI BERBASIS NILAI-NILAI PESANTREN STUDI FENOMENOLOGIS DI TULUNGAGUNG, Akademika, Vo. 22, No. 1, 2017 (Terakreditasi B).
7.     Pengembangan Pendidikan Aswaja sebagai Strategi Deradikalisasi, Jurnal Walisongo, Volume 23 Nomor 1 Tahun 2015 (Terakreditasi B).
8.     Islam dan HAM: Perdebatan Mencari Titik Temu, Jurnal Ijtihad, Vol. 15, No. 1, Juni 2015 (Terakreditasi B).
9.     Kebangkitan Spiritualitas Manusia Modern, Jurnal Kalam, Volume 17, No. 2, 2013 (Terakreditasi B).
10. Islam dan Pancasila, Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Madjid, Episteme, Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, Volume 10, Nomor 2, 2015 (Terakreditasi B).
11. Pluralisme Sebagai Jalan Pencerahan: Telaah Pemikiran M. Dawam Rahardjo, Salam, Volume 15 Nomor 2, 2012.
12. Mengembalikan Misi Pendidikan Sosial dan Kebudayaan Pesantren, Jurnal Media Pendidikan, Volume: XXVII, Nomor 3, 2012/2013 (Terakreditasi B).
13. Sejarah Sebagai Pendekatan dalam Studi Islam, Ibda’, Vol. 8 No. 1 Juni 2010 (Terakreditasi B).
14. Membangun Toleransi dalam Masyarakat Majemuk, Jurnal Harmoni, Januari-Maret 2016, (Terakreditasi B).


 Malam Pak Naim  ingin berbagi dengan peserta tentan beliau mengatakan Bahwa yang dipaparkan Bukan suatu hal istimewa hanya hal sederhana Semoga bermanfaat Kemungkinan ke [3] menulis dengan melakukan “kanibal” tulisan orang lain. Misalnya mendapatkan bahan di googe lalu dipotong sana-sini sampai berbentuk layaknya tulisan.
Kemungkinan ke [4], begitu mendapatkan tugas langsung berburu referensi. Tidak berpikir apa yang harus ditulis. Begitu referensi didapatkan segera dibuka, diketik, lalu tutup. Ganti referensi berikutnya, dibuka, diketik, lalu tutup.
Tugas penulis biasanya di akhir kutipan: berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan.
Menulis itu membuat kita menjadi berbeda dibandingkan kawan-kawan yang lainnya. Sesederhana apa pun buku yang Bapak dan Ibu hasilkan itu tetap memiliki kontribusi penting. Jangan dengarkan nyinyiran yang tidak konstruktif. Selama Bapak Ibu sekalian terus menulis maka akan menjadikan kita sebagai makhluk yang berbeda dengan kawan-kawan lainnya.kunci ketiga: menulis itu memberikan banyak “keajaiban” dalam hidup.sesuai dengan unggahan dari omjay, saya akan menyampaikan bahan diskusi mari produktif menulis Jadi jika Bapak Ibu sudah produktif menulis, berarti topik ini bukan topik istimewa

 Bahan untuk renungan bersama
Guru adalah kunci penting dalam dunia pendidikan. Jika guru berkualitas, besar kemungkinan kelas yang diajarnya juga berkualitas. Tapi jika gurunya kurang berkualitas, tentu hasil pembelajarannya juga kurang sesuai dengan harapan.
Salah satu kunci penting peningkatan kualitas guru adalah dengan membangun budaya literasi. Literasi berarti budaya membaca dan menulis.
Seorang guru yang mau terus membaca buku dan menulis memiliki peluang untuk semakin meningkat kualitas dirinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak karya yang dihasilkan, maka akan memiliki kontribusi penting bagi kemajuan pendidikan.

Kunci-Kunci Penting Dalam Menulis.
Kunci itu alat untuk membuka. Alat yang bisa menjadikan Bapak Ibu sekalian produktif dalam menulis.bapak Ibu sekalian bisa mendapatkan kunci tetapi kunci akan sebatas sebagai kunci jika tidak difungsikan.Keterlibatan Bapak Ibu sekalian di grup ini ibaratnya untuk mendapatkan kunci. Tapi jika sekadar mendapatkan saja dan tidak dipraktikkan, tentu kunci itu kurang fungsional.

Kunci dalam menulis
Kunci pertama adalah motivasi. Apa motivasi Bapak dan Ibu sekalian?
Silahkan ditata mulai sekarang. Motivasi menulis bisa berupa; [1] motivasi karir. Bapak dan Ibu sekalian anggota grup. Mencermati komposisi anggota grup ini—maaf jika saya salah—saya berkesimpulan bahwa menulis merupakan aktivitas yang berkaitan erat dengan profesi Bapak Ibu sekalian. Implikasinya, semakin mahir menulis maka semakin lancar karir yang kita tempuh. [2] motivasi materi; menulis itu menghasilkan honor. Bagi penulis yang sudah sangat terkenal, honor memang sangat berlimpah. Bukunya terus mengalami cetak ulang. Namun jumlah mereka yang beruntung dari sisi ini tidak terlalu banyak. Sebagian besar penulis justru kurang mendapatkan perhatian dari sisi materi. [3] motivasi politik; menulis ditujukan untuk mencapai tujuan politik tertentu.[4] motivasi cinta; menulis karena memang mencintai aktivitas menulis.Bapak Ibu sekalian bisa memilih jenis motivasinya. Bisa juga menambah jenis motivasi di luar 4 yang saya sebut di atas. Namun perlu diingat bahwa apa pun motivasi yang dipilih maka akan mempengaruhi terhadap tulisan atau buku yang akan dihasilkan.

Kunci kedua: meyakini bahwa menulis itu anugerah.
Saya pribadi berpendapat bahwa mau dan mampu menulis itu anugerah.
Banyak orang yang mau menulis tapi tidak mampu mengerjakannya; bisa karena kesibukan atau sejuta alasan lainnya. Banyak yang sesungguhnya mampu menulis tetapi tidak mau menulis. Karena itulah bisa menulis—bagi saya—adalah anugerah luar biasa yang harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan terus menulis.
Bapak Ibu sekalian saya sangat yakin bisa menulis. Coba sekarang simak pengalaman menulis Bapak Ibu sekalian. Jika Bapak Ibu sekalian lulusan S1, atau S2 atau S3 berarti sudah menulis ribuan halaman. Ya, ribuan halaman. Kok sekarang mengaku nggak bisa menulis. Terus yang dulu ribuah halaman itu apa yang ditulis? Maaf jika tersinggung.
Bayangkan, saat S-1 Bapak Ibu sekalian setiap semester harus membuat makalah. Paling tidak satu semester harus membuat 10 makalah. Kalikan 10 halaman, berarti kan sudah 100 halaman. Kalikan 8 semester. Berarti kan sudah 800 halaman. Asumsinya 1000 halaman dengan laporan KKN, magang, skripsi.
Jumlah halaman pasti bertambah jika Bapak Ibu lulus S2. Total halaman yang ditulis jika sampai lulus S2 saya kira paling tidak 500 halaman. Apalagi jika sampai selesai doktor. Jelas di atas 2.500 halaman. Sekarang hitung berapa laporan penelitian yang harus Bapak Ibu buat setiap tahun. Berapa laporan pengabdian. Sudah ribuan—sekali lagi ribuan—halaman yang sudah Bapak Ibu tulis.

Sekarang mari kita urai mengapa kok masih ada yang kesulitan menulis padahal pengalaman menulisnya sudah ribuan halaman. Ada beberapa kemungkinan; [1] Selama kuliah spesial menjadi anggota kelompok yang tidak pernah menulis makalah. Biasanya ini yang spesial membiayai foto kopi.Sekali lagi mohon maaf jika ada yang kurang berkenanKemungkinan ke [2], tidak menulis karena dibuatkan orang lain. Menulis itu memberikan banyak sekali manfaat. Pak Wijaya Kusumah--Omjay-- seorang bloger, youtuber dan guru kita semua, mengatakan bahwa menulis setiap hari itu telah memberikan keajaiban dalam kehidupan. Coba kita simak apa saja bentuk keajaiban yang beliau rasakan karena menulis.: [1] mendapatkan banyak materi. Karena rajin menulis, bukunya mendapatkan banyak royaliti. [2] sering diundang sebagai pembicara di berbagai forum. [3] memiliki banyak teman. [4]. Bisa membeli peralatan yang dibutuhkan dalam kehidupan. [5] tulisan adalah alat perekam kehidupan yang ajaib.

Kunci Keempat: Tidak Mudah Menyerah.
Banyak orang ingin menulis, tentu termasuk menulis buku, tetapi semangat menulisnya naik turun. Saat ikut kegiatan kepenulisan semacam ini, semangat menulisnya berapi-api. Tetapi saat kembali ke dunia nyata, ke dunia kehidupan sehari-hari, semangat itu perlahan tetapi pasti memudar dan akhirnya hilang sama sekali. Saat bersemangat, menulis berlembar-lembar halaman dalam sehari terasa ringan. Saat tidak bersemangat, satu paragraf pun terasa berat sekali. Bahkan sangat mungkin berbulan-bulan tanpa menulis sama sekali. Menulis lima paragraf yang dilakukan rutin setiap hari jauh lebih baik daripada sepuluh halaman yang dilakukan tiga bulan sekali

Kunci Kelima: Berjejaring.
Jadi penulis jangan menepi. Memang saat sekarang kita harus menepi karena Corona, tetapi bukan berarti tidak berinteraksi. Bangun jejaring kepenulisan. Ikut kegiatan semacam ini juga dalam rangka berjejaring.

Kunci Keenam: Menulis Sebanyak-Banyaknya.
 Menulislah setiap hari tanpa henti. Lakukan secara terus-menerus. Jika Anda merasa tulisan Anda tidak baik maka dengan menulis setiap hari tulisan Anda akan otomatis menjadi baik.6 kunci yang saya uraikan bisa membuat membuat Bapak Ibu sekalian produktif menulis.Tapi--sekali lagi--kunci itu adalah alatTinggal bagaimana kunci itu digunakan secara tepatDemikian materi dari saya.

 Sesi Pertanyaan
Materi 6 kunci tadi sangat luarr biayasa. Pertanyaan saya, bagaimana caranya menyusun resume jadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca? apakah tanggal dalam resume harus dihilangkan? atau dibiarkan? Soalnya ada yang bilang, kalo buat buku, tanggal dan bulan resume harus dihilangkan. Mohon pencerahannya . Menurut saya tanggal tidak perlu dicantumkan.Saya kebetulan memiliki sebuah buku yang merupakan review dari banyak buku Judulnya Teraju: Strategi Membaca dan Mengikat Makna

 Materi 6 kunci tadi sangat luarr biayasa. Pertanyaan saya, bagaimana caranya menyusun resume jadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca? apakah tanggal dalam resume harus dihilangkan? atau dibiarkan? Soalnya ada yang bilang, kalo buat buku, tanggal dan bulan resume harus dihilangkan. Mohon pencerahannya. Bisa untuk contoh Saya tidak memasukkan tanggal dan bulan resumeBisa kunjungi blog saya: https://spirit-literasi.blogspot.com Namun jika dimasukkan juga tidak apa-apa Tidak ada aturan baku

Kriteria tulisan yang baik dan berkualitas itu seperti apa,  lalu apa saja kiat yang Bp lakukan untuk  menghasilkan karya tulis yang bisa diterima khalayak / penerbit (1) selesai ditulis. ini penting. sebagus apa pun ide, jika belum selesai ditulis ya belum bagus.  (2) Minim salah ketik atau salah teknis. (3) Bahasa menarik dan didukung oleh logika berpikir yang baik.JIka ingin diterima penerbit, ikuti gaya dan kebijakan penerbit.

Menjaga konsistensi menulis itu tdk mudah, pertanyaan saya: 1. Apa tips yg plg jitu agar kita bs konsisten menulis & produtif ?2. Kapan waktu yg pas bg kita utk menulis ? Perlukah dg jadwal & target waktu ? (1) Semua kebiasaan awalnya dipaksa. Bangun komitmen untuk rutin menulis. Awalnya paksa, lama-lama akan terbiasa. (2) Setiap orang memiliki jadwal yang seharusnya disusun dan ditaati.

Saya ingin stresing poin tentang jangan hiraukan nyinyiran orang sepertinya ini adalah masalah besar pak. KURANG PD dgn karya sendiri.. mhn petunjuk Ada 4 jenis MALU dalam menulis: (1) MALU untuk menulis. Tidak akan bisa menulis. (2) MALU kalau menulis dan tulisannya dibaca orang. (3) MALU sudah mulai hilang. Pokoknya nulis. (4) MALU TIDAK MENULIS.

Apa fungsi kerangka tulisan dalam menulis?
Saya sudah baca semua materi yang bapak sampaikan. Pertanyaan saya adalah selain kiat dan materi yang bapak sampaikan, adakah kiat lain yang sangat efektif untuk membangkitan semangat menulis bagi teman yang ingin menulis tapi alasannya tidak bisa menulis, banyak kerjaan, sibuk, belum ada waktu. Kalau saya sih, cinta menulis puisi sejak saya SMA. .

Kadang ada keinginginan menulis terus menerus tiap hari tapi kadang muncul penyakit malas, bagaimana mengatasinya? Bagaimana menjaga supaya tetap memiliki motivasi yg tinggi utk menulis. Kdg kita bisa ngomong tp tdk pandai/malas utk menulisAssalamualaikum. Sebelumnya saya mengucapkan trimakasih,  Luar biasa sekali pak materinya


Bagaimanakah menjaga konsistensi dalam menulis, sebab saya merasakan menulis itu masih musim-musiman. Pas lagi mood ya ide muncul, pas lagi tidak mood, ide mampet mohon saran, terimakasih.
Mohon penguatan karena saat  menulis sering tudak bisa menyelesaikan tulisan karena tidak percaya diri dengan topik yang ditulis,   hal itu sangat biasa dan tidak penting ditulis,  sekali lagi mohon penguatannya

Bagaimana menyambungkan tulisan setiap paragraf supaya tulisan itu kelihatan benang merahnya, apakah cukp dengan bahasanya atau dg temanya? Kadang-kadang menulis ingin sekali jadi? Padaha itu hal yg tidak mungkin, bagaimana caranya supaya menulis yang efektif dan efisien supaya langsung jadivtulisan?

Kesimpulan dari materi kuliah malam ini adalah Produktif Menulis dengan Motivasi yang kuat dari diri sendiri. Meyakini kesempatan menulis ini adalah sebagi sebuah anugrah, Maka syukurilah dengan terus dan terus menulis, Jangan mudah menyerah, Jalinlah komunikasi yang baik dengan sesama teman penulis dan menulislah sebanyak-banyaknya.

Alhamdulillah dengan  mengucap puji syukur kepada  Allah Swt.,Malam ini kita sudah mendapatkan ilmu yang bermanfaat  Kunci kunci pembuka agar kita menjadi  penulis hebat:https://nyakbaye.blogspot.com/2020/07/produktifitas-menulis-adalah-bukti.html?m=1
Pertanyaan akan saya sampaikan ke Pak Naim .jawabannya akan ditayangkan.
Kesimpulan materi:
1. Menulislah dengan konsisten
2. Motivasi terkuat adalah dari diri sendiri
3. Menulislah hingga menemukan keajaiban
4. Menulislah setulus hati.
5. Menulislah dengan senang tanpa paksaan.

Kebumen
03 juli 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

RESUME KE-13 KOLABORASI DAN INOVASI DALAM MENGELOLA SEKOLAH DI ERA COVID 19

RESUME KE 16 SERBA SERBI PENULISAN BUKU

RESUME KE 11 SEGUDANG PRESTASI MILIK PAK DEDI